Bagaimana mereka membentuk karakter anak jika gurunya begitu?
Nur Edy bersama NiLa MagFira Hapusa.

Guru taman kanak-kanak (TK) di Jerman tidak seperti di Indonesia, mereka tidak harus berpakaian rapi. Mereka bahkan terkesan berpenampilan urakan bagi orang-orang Indonesia. Ada yang menggunakan anting di hidung dan bibir, rambut gimbal, bertato, bahkan punk. Meski berpenampilan nyetrik, seperti itu, saya harus jujur menghormati dedikasi mereka sebagai guru professional. Saya salut dengan cara mereka membentuk karakter anak-anak. Terutama tentang “kemandirian”.

Membentuk kemandirian adalah satu hal yang mudah dianjurkan tetapi sulit dipraktekkan. Anak-anak saya, Nicky (6 thn) dan Lyo (4 thn), sejak bergabung di salah satu TK di kota Goettingen Jerman, menunjukkan perilaku berbeda. Mereka menolak makan disuapi, malu dipakaikan sepatu (meskipun Lyo masih sering pakai sepatu terbalik), dan mereka selalu bilang “Ich weiß schon” (saya tau/saya bisa sendiri). Mereka juga terlebih dahulu selalu bertanya ke orang tuanya untuk minta izin sebelum melakukan sesuatu yang memerlukan persetujuan. Misalya,
“Ayah, apakah ini jam nonton anak-anak?”
“Ayah, apakah film ini boleh saya nonton?”
“Ibu, boleh makan ice cream?”
“Ibu, boleh makan coklat?”

Saya senang karena anak-anak malu jika mereka harus dibantu orang tuanya untuk hal-hal yang mereka bisa kerjakan sendiri. Mereka juga tidak semaunya menyalakan TV untuk menonton, atau langsung memakan makanan yang ditawarkan orang lain.

Hal tersebut terkesan sepele bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya, ini merupakan perubahan sikap yang luar biasa bagi anak-anak seusia mereka. Si anak sadar bahwa mereka tidak boleh semaunya sekaligus meletakkan fungsi orang tua sebagai pendamping ketika butuh penjelasan.

Tentu saja itu bukan bentukan kami, ini didikan sekolah TK. Saya salut! Rasa penasaran mengantarkan saya untuk ingin tahu bagaimana si guru mengoperasionalkan pendidikan karakter di sekolah. Bagaimana mereka mendidik anak-anak semandiri itu? Setelah saya perhatikan, rupanya si guru mengajari anak-anak dengan cara menjadi teman bermainnya. Sambil bermain, si guru mempraktekkan bagaimana berperilaku mandiri dan selalu meminta persetujuan murid ketika dibutuhkan. Misalnya menanyakan, “bolehkah gambarnya disimpan di folder?”, “mau ngga hiking dan picnic besok?”.

Pendidikan karakter tidak hanya terbentuk di sekolah formal, hal penting yang menunjang pembentukan karakter anak juga ditemukan di luar sekolah. Kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan di sekolah, juga ditemukan di luar sekolah sebagai perilaku sehari-hari masyakat pada umumnya. Misalnya ada budaya tertib antri, terib berlalu-lintas, perilaku yang baik dan tidak mengganggu orang lain. Ajaran pendidikan karakter di sekolah bertemu dengan ketauladanan perilaku orang dewasa di luar sekolah menjadi satu pertemuan yang baik untuk menunjang pendidikan karakter anak.

Cara si guru berkomunikasi dengan murid menunjukkan perilaku mengajak dan menghargai si anak. Murid tidak menjadi sub-ordinat guru. Sebagai contoh, guru bertanya ke murid dengan kalimat “anak-anak mau ngga hiking dan picnic besok?”. Si guru tidak mengatakan: “anak-anak besok kita akan hiking dan picnic ya”. Kalimat si guru mengajak partisipasi murid untuk berpendapat. Secara tidak langsung, si guru juga membangkitkan kepercayaan diri si murid untuk berbicara dan berpebdapat. Sangat berbeda dengan kalimat kedua yang tidak mengajak anak berpendapat, isinya bukan bersifat ajakan, tapi perintah.

Hal lainnya, saya kerap melihat orang tua (termasuk saya dan mungkin juga guru TK) di Indonesia yang menyepelekan hal kecil tapi sangat berarti seperti contoh di atas. Saya juga sering melihat gambar anak-anak di kertas yang hanya berupa coretan tak berarti, di buang begitu saja oleh orang tuanya. Mungkin mereka berpikir, “gambar apa sih ini?”. Padahal dari hal-hal sekecil itu, kita bisa belajar menghargai anak. Saya memperhatikan perilaku itu di sini. Ketika Si Lyo berumur hampir 3 tahun di awal fase TKnya, gambar dan lukisan Lyo yang hanya berupa coretan-coretan semrawut tetap disimpan oleh gurunya dalam sebuah folder. Suatu hari si guru ingin menunjukkan gambar-gambar tersebut ke kami. Sebelumnya si guru menanyakan ke Lyo, apakah si guru dan kami (orang tuanya) boleh melihat isi foldernya. Jika Lyo mengizinkan, baru kami boleh melihatnya. Begitu si guru mempraktekkan cara menghargai privasi anak-anak. Si Guru lalu menunjukkan kemajuan-kemajuan Lyo dari gambarnya. Dari yang hanya berupa coretan, lalu mulai berbentuk menjadi mobil, rumah, sepeda, dan super hero favoritnya.

Pada banyak hal, cara pandang terhadap sesuatu akan berbeda-beda. Itu dipengaruhi oleh pola pikir dan fakta-fakta di sekeliling objek yang diamati. Kekawatiran saya pada sifat anak kecil lekat dengan kebiasaan meniru, dikaitkan dengan penampilan gurunya yang “begitu” terhapus dengan sendirinya. Guru-guru Lyo dan Nicky selalu menempatkan diri sebagai teman bermain anak-anak sekaligus mengajarkan “nilai-nilai kebaikan universal”. Si guru mengajarkan kebaikan-kebaikan ke murid dan melarang berperilaku tidak baik. Mereka tidak mereferensikan agama, atau pilihan “genre hidup” (gaya berbusana, punk, bertato, beranting, dll.), itu wilayah privasi yang harus dihargai. Anak-anak juga selalu diberi pemahaman, bahwa mereka harus berperilaku sesuai umur. Misalnya gaya dan genre hidup seperti itu adalah gaya orang dewasa dan tidak boleh ditiru oleh anak-anak.

Tentu saja akan sulit memahami semua itu jika cara berpikir seperti kebanyakan orang-orang di negeri kita yang dipakai untuk memahami penampilan si guru karena dia seorang pengajar sekaligus pendidik. Tapi rupanya tidak begitu pemahaman yang ada di sini. Satu hal yang harus dimengerti, Jerman adalah negera sejahtera, berbeda dengan negara kita. Pola pikir mereka tidak lagi pada hal-hal yang tidak substansial. Mereka kebanyakan berpenampilan seadanya, HP dan busananya banyak yang tidak bermerk mahal karena mereka lebih memilih fungsi dan substansi. Itu salah satu ciri masyarakat di negara-negara sejahtera . Pada konteks tersebut, penampilan beranting, punk ber tato tidak lagi menjadi masalah, sepanjang kompetensinya sebagai guru memenuhi syarat.

Rupanya penampilan guru yang “begitu” tidak akan ditiru oleh si anak TK karena mereka membentuk kemandirian dan pola pikir si anak, bukan mengajarkan gaya hidup. Mereka menanamkan kemandirian hingga pada suatu hari nanti si anak memilih akan jadi apa atas kemandiriannya berpikir. Ini nilai. Ini budaya. Kita tidak perlu ikut semua budaya barat, tapi yang baik boleh diambil, yang kurang cocok jangan dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *